Iklan

Pengalaman Membatalkan Tiket Air Asia dan Malindo Air

Tag

, , , , , , , , , ,


Saya ingin membagi pengalaman pembatalan tiket pesawat Air Asia dan Malindo untuk penerbangan awal bulan ini, yang tiketnya sudah saya beli 6-12 bulan sebelum keberangkatan. Perjalanan yang sebelumnya mau saya beri judul “Pengalaman Jalan Jalan ke Kamboja, Thailand dan Malaysia 2017” ini akhirnya saya ganti judulnya menjadi “Pengalaman Membatalkan Tiket Air Asia dan Malindo Air”. Pembatalan ini terjadi karena hingga sebulan sebelum keberangkatan tidak menemukan sesuatu yang wah tentang Kamboja, Thailand dan Malaysia. Thailand pernah tahun 2011 ke sana, tapi kurang menarik kalau cuma lihat istana raja (Grand Palace),  candi (Wat), Mall Paragon, Pasar Chatuchak yang pernah saya kunjungi dan tampaknya tetap jadi andalan wisata Thailand. Demikian juga Malaysia yang tiap tahun pasti ke sana (sering lebih murah tiketnya daripada terbang dari Jakarta ke Banjarmasin). Kamboja? ga ada chemistry dari cerita traveler yang pernah ke sana. Ya sudah, deal, tiket berdua ke Kamboja, Thailand, Malaysia kami batalkan. Ada tiket promo dan ada tiket normal. Berikut rinciannya :

1.Air Asia Malaysia (AK)  Kuala Lumpur – Phnom Penh, Sabtu, 28 Oktober 2017, free seat

Tiket tidak bisa dibatalkan, tapi bisa mendapat refund airport tax. 

Dari MYR 89.84 yang saya bayar, kembali MYR 37.84 (42%), kena potongan biaya pemrosesan kartu kredit saat pembelian 16 Ringgit, biaya pemrosesan airport tax 30 Ringgit, biaya klia2 6 Ringgit, total biaya 52 Ringgit.

2.Air Asia Thailand (FD) Bangkok-Kuala Lumpur, Jumat, 3 November 2017, tiket normal.

Sebenarnya tiket tidak dapat dibatalkan, dan cuma dapat refund airport tax. Namun seminggu sebelum keberangkatan dapat SMS dan email bahwa penerbangan dibatalkan dan dipindahkan ke penerbangan berikutnya. Baiknya Air Asia adalah kalau mereka yang membatalkan /mengubah jadwal calon penumpang diberi pilihan : reschedule, credit 90 hari, refund ke rekening pembayaran (kartu kredit/tabungan). Karena tidak ada semangat ke Bangkok,  saya pilih refund dong.

Kalau ini balik semua(100%), karena pembatalan dari pihak Air Asia.

3.Air Asia Malaysia (AK) Kuala Lumpur – Jakarta, Jumat, 3 November 2017, free seat

Tiket tidak bisa dibatalkan, hanya bisa mendapat pengembalian airport tax.

Dari MYR 48.1 yang saya bayar, akan kembali MYR 22.1 (46%), setelah dipotong biaya kartu kredit saat pemesanan 8 Ringgit, biaya tax refund 15 Ringgit dan klia2 fee 3 Ringgit. Total biaya 26 Ringgit.

Semua tiket tadi saya beli langsung di Air Asia, dan permintaan refund saya kirim melalui https://support.airasia.com/s/customcontactsupport?language=en_GB

Ada konfirmasi jika permintaan sudah mereka terima.

balasan dari Air Asia.jpg

keterangan setelah isi form refund

Dan beberapa hari kemudian (pengalaman saya perlu seminggu) akan ada konfirmasi jika sudah selesai diproses customer service, selanjutnya diproses bagian refund dan uang refund akan masuk 30 hari kemudian.

balasan kalau sudah diproses.jpg

balasan kalau sudah diproses

Berikutnya 4. Malindo Air (OD) Kuala Lumpur – Jakarta, Minggu, 5 November 2017, tiket promo di Traveloka

Tiket ini saya beli paling akhir, untuk antisipasi ketinggalan pesawat dari Bangkok dan tambahan jalan-jalan di Kuala Lumpur 3 hari 2 malam.

Terpaksa hangus tanpa refund, karena ini tiket promo (kelas X)  seharga 736 ribu/2  orang. Kalau saya baca di laman Malindo Air, untuk tiket promo tidak ada pengembalian tiket (sama dengan yang dibilang Traveloka) , sedangkan  biaya administrasi  cancelation fee untuk tiket flexy adalah 500 ribu.

Sempat cari cari info tiket murah hari Minggu, rencananya berangkat pagi, trus jalan di mall dan belanja di Jaya Grocery KLIA2 yang jual produk dari berbagai negara khususnya bumbu masak yang tidak saya temukan di Indonesia, sore pulang  naik Malindo ini, biar  ga mubazir. Ternyata saya cek di laman Jaya Grocery, ada promo Samyang satu pack isi 5 harganya 31 Ringgit (65 ribu Rupiah). Meh, di marketplace Indonesia ada yg jual 45 ribu, termasuk ongkos kirim. No Worth it. Ya sudah, relakan saja tiket Malindo Air ini hangus.

Total kerugian materi batal jalan2 ini adalah 78 Ringgit (52+26)~250 ribu Rupiah plus 736 ribu Rupiah = 986 ribu Rupiah. Tapi ada refund dari Air Asia Malaysia 60 Ringgit (37.81+22.1)~190 ribu Rupiah dan dari Air Asia Thailand 2540 Baht Thailand ~1,01 juta Rupiah, total refund 1,2 juta Rupiah. Lumayan.
Begitulah sekelumit cerita saya tentang pembatalan tiket Air Asia dan Malindo Air.

Pesan saya :

1.Pastikan destinasi yang ingin anda kunjungi merupakan destinasi impian, agar terjaga semangat mengunjungi tempat tersebut.

2.Jangan tergoda tiket promo kalau destinasi tersebut bukan destinasi impian/tidak ada acara spesial

3.Pastikan ada waktu (dapat izin kantor, tidak bentrok dengan pekerjaan)

4.Apabila tidak jadi berangkat, jangan menyerah, siapa tahu ada kembalian uang tiket. Kuncinya bertanya ke Customer service tempat kita membeli tiket.

Update 15 November 2017

Refund di kartu kredit saya terima sebagian-yg Air Asia Malaysia AK, sedangkan refund Air Asia Thailand FD, kemungkinan di bill statement bulan depan.

IMG_20171120_192437.jpg

keterangan refund di kartu kredit

Oh ya, syarat lainnya klaim refund paling lambat 6 bulan setelah jadwal keberangkatan. Dan apabila pengembaliannya berupa credit shell tidak kena biaya (credit shell berlaku 90 hari,lewat itu hangus), sedangkan apabila kita minta refund ke kartu kredit/tabungan ada biaya administrasi dll.

 

IMG-20171120-WA0002.jpg

ketentuan refund

Oh, tampaknya Tiket.com sedang ada promo tiket murah pergi pulang ke luar negeri  yang diskonnya cukup besar. Lumayan juga kalau dapat destinasi yang menarik yang belum pernah dikunjungi.

Iklan

Kemana Pindahnya Daya Beli? 

Tag

, , ,


Ada tulisan yang menarik terkait kemana pindahnya daya beli, dari sektor riil dimana pusat perbelanjaan elektronik dan pakaian sepi, sementara toko online cuma mampu menarik 1%. Berikut tulisan pak Yuswohady, pakar marketing yang biasa menulis di majalah Swa :

Welcome Leisure Economy
by yuswohady
The Phenomenon

Dalam 3 bulan terakhir muncul diskusi publik yang menarik mengenai fenomena turunnya daya beli konsumen kita yang ditandai dengan sepinya Roxi, Glodok, Matahari, Ramayana, Lotus, bahkan terakhir Debenhams di Senayan City.
Anggapan ini langsung dibantah oleh ekonom karena dalam lima tahun terakhir pertumbuhan riil konsumsi masyarakat robust di angka sekitar 5%. Kalau dilihat angkanya di tahun ini, pertumbuhan ekonomi sampai triwulan III-2017 masih cukup baik sebesar 5,01%. Perlu diingat bahwa konsumsi masyarakat (rumah tangga) masih menjadi kontributor utama PDB kita mencapai 54%.
Sebagian pakar mengatakan sepinya gerai ritel konvensional tersebut disebabkan oleh beralihnya konsumen ke gerai ritel online seperti Tokopedia atau Bukalapak. “Gerai-gerai tradisional di Roxi atau Glodok telah terimbas gelombang disrupsi digital,” begitu kata pakar.
Kesimpulan ini pun misleading karena penjualan e-commerce hanya menyumbang 1,2% dari total GDP kita, dan hanya sekitar 0,8% (2016) dari total penjualan ritel nasional. Memang pertumbuhannya sangat tinggi (eksponensial) tapi magnitute-nya belum cukup siknifikan untuk bisa membuat gonjang-ganjing industri ritel kita.
Kalau konsumen tak lagi banyak belanja di gerai ritel konvensional dan masih sedikit yang belanja di gerai online, maka pertanyaannya, duitnya dibelanjakan ke mana?
The Consumers
Tahun 2010 untuk pertama kalinya pendapatan perkapita masyarakat Indonesia melewati angka $3000. Oleh banyak negara termasuk Cina, angka ini “keramat” karena dianggap sebagai ambang batas (treshold) sebuah negara naik kelas dari negara miskin menjadi negara berpendapatan menengah (middle-income country).
Ketika melewati angka tersebut, sebagian besar masyarakatnya adalah konsumen kelas menengah (middle-class consumers) dengan pengeluaran berkisar antara $2-10 perhari. Di Indonesia, kini konsumen dengan rentang pengeluaran sebesar itu telah mencapai lebih dari 60% dari total penduduk.
Salah satu ciri konsumen kelas menengah ini adalah bergesernya pola konsumsi mereka dari yang awalnya didominasi oleh makanan-minuman menjadi hiburan dan leisure. Ketika semakin kaya (dan berpendidikan) pola konsumsi mereka juga mulai bergeser dari “goods-based consumption” (barang tahan lama) menjadi “experience-based consumption” (pengalaman). Experience-based consumption ini antara lain: liburan, menginap di hotel, makan dan nongkrong di kafe/resto, nonton film/konser musik, karaoke, nge-gym, wellness, dan lain-lain.
Pergeseran inilah yang bisa menjelaskan kenapa Roxi atau Glodog sepi. Karena konsumen kita mulai tak banyak membeli gadget atau elektronik (goods), mereka mulai memprioritaskan menabung untuk tujuan liburan (experience) di tengah atau akhir tahun. Hal ini juga yang menjelaskan kenapa mal yang berkonsep lifestyle dan kuliner (kafe/resto) seperti Gandaria City, Gran Indonesia, atau Kasablanka tetap ramai, sementara yang hanya menjual beragam produk (pakaian, sepatu, atau peralatan rumah tangga) semakin sepi.
The Shifting
Nah, rupanya pola konsumsi masyarakat Indonesia bergeser sangat cepat menuju ke arah “experience-based consumption”. Data terbaru BPS menunjukkan, pertumbuhan pengeluaran rumah tangga yang terkait dengan “konsumsi pengalaman” ini meningkat pesat. Pergeseran pola konsumsi dari “non-leisure” ke “leisure” ini mulai terlihat nyata sejak tahun 2015
Untuk kuartal II-2017 misalnya, konsumsi rumah tangga tumbuh 4,95% dari kuartal sebelumnya 4,94%. Pertumbuhan konsumsi rumah tangga ini dinilai melambat lantaran konsumsi rumah tangga dari sisi makanan dan minuman, konsumsi pakaian, alas kaki, perumahan dan perlengkapan rumah tangga, (goods-based) hanya tumbuh tipis antara 0,03-0,17%. Sementara konsumsi restoran dan hotel (experience-based) melonjak dari 5,43% menjadi 5,87%. “Jadi shifting-nya adalah mengurangi konsumsi yang tadinya non-leisure untuk konsumsi leisure,” ucap Ketua BPS, Suhariyanto.
Studi Nielsen (2015) menunjukkan bahwa milenial yang merupakan konsumen dominan di Indonesia saat ini (mencapai 46%) lebih royal menghabiskan duitnya untuk kebutuhan yang bersifat lifestyle dan experience seperti: makan di luar rumah, nonton bioskop, rekreasi, juga perawatan tubuh, muka, dan rambut.
Sementara itu di kalangan milenial muda dan Gen-Z kini mulai muncul gaya hidup minimalis (minimalist lifestyle) dimana mereka mulai mengurangi kepemilikian (owning) barang-barang dan menggantinya dengan kepemilikan bersama (sharing). Dengan bijak mereka mulai menggunakan uangnya untuk konsumsi pengalaman seperti: jalan-jalan backpacker, nonton konser, atau nongkrong di coffee shop.
Berbagai fenomana pasar berikut ini semakin meyakinkan makin pentingngnya sektor leisure sebagai mesin baru ekonomi Indonesia. Bandara di seluruh tanah air ramai luar biasa melebihi terminal bis. Hotel budget di Bali, Yogya, atau Bandung full booked tak hanya di hari Sabtu-minggu, tapi juga hari biasa. Tiket kereta api selalu sold-out. Jalan tol antar kota macet luar biasa di “hari kejepit nasional”. Destinasi-destinasi wisata baru bermunculan (contoh di Banyuwangi, Bantul atau Gunung Kidul) dan makin ramai dikunjungi wisatawan.
Sektor pariwisata kini ditetapkan oleh pemerintah sebagai “core economy” Indonesia karena kontribusinya yang sangat siknifikan bagi perekonomian nasional. Saat ini sektor pariwisata merupakan penyumbang devisa kedua terbesar setelah kelapa sawit dan diproyeksikan 2-3 tahun lagi akan menjadi penyumbang devisa nomor satu. Ini merupakan yang pertama dalam sejarah perekonomian Indonesia dimana pariwisata menjadi tulang punggung ekonomi bangsa.
Tak hanya itu, kafe dan resto berkonsep experiential menjamur baik di first cities maupun second cities. Kedai kopi “third wave” kini sedang happening. Warung modern ala “Kids Jaman Now” seperti Warunk Upnormal agresif membuka cabang. Pusat kecantikan dan wellness menjamur bak jamur di musim hujan. Konser musik, bioskop, karaoke, hingga pijat refleksi tak pernah sepi dari pengunjung. Semuanya menjadi pertanda pentingnya leisure sebagai lokomotif perekonomian Indonesia.
The drivers
Kenapa leisure-based consumption menjadi demikian penting bagi konsumen dan mereka mau menyisihkan sebagian besar pendapatan untuk liburan atau nongkrong di kafe/mal? Setidaknya ada beberapa drivers yang membentuk leisure economy.
#1. Consumption as a Lifestyle. Konsumsi kini tak hanya melulu memenuhi kebutuhan dasar sandang, pangan, papan. Konsumen kita ke Starbucks atau Warunk Upnormal bukan sekedar untuk ngopi atau makan, tapi juga dalam rangka mengekspresikan gaya hidup. Ekspresi diri sebagai bagian inhenren dari konsumsi ini terutama didorong maraknya media sosial terutama Instagram.
#1. From Goods to Experience. Kaum middle class milennials kita mulai menggeser prioritas pengeluarannya dari “konsumsi barang” ke “konsumsi pengalaman”. Kini mulai menjadi tradisi, rumah-rumah tangga mulai berhemat dan menabung untuk keperluan berlibur di tengah/akhir tahun maupun di “hari-hari libur kejepit”. Mereka juga mulai banyak menghabiskan waktunya untuk bersosialisasi di mal atau nongkrong di kafe sebagai bagian dari gaya hidup urban.
#2. More Stress, More Travelling. Dari sisi demand, beban kantor yang semakin berat dan lingkungan kerja yang sangat kompetitif menjadikan tingkat stress kaum pekerja (white collar) kita semakin tinggi. Hal inilah yang mendorong kebutuhan leisure (berlibur, jalan-jalan di mal, atau dine-out seluruh anggota keluarga) semakin tinggi.
#3. Low Cost Tourism. Dari sisi supply, murahnya tarif penerbangan (low cost carrier, LCC) yang diikuti murahnya tarif hotel (budget hotel) menciptakan apa yang disebut: “low cost tourism”. Murahnya biaya berlibur menjadikan permintaan melonjak tajam dan industri pariwisata tumbuh sangat pesat beberapa tahun terakhir.
#4. Traveloka Effect. Momentum leisure economy semakin menemukan momentumnya ketika murahnya transportasi-akomodasi kemudian diikuti dengan kemudahan dalam mendapatkan informasi penerbangan/hotel yang terbaik/termurah melalui aplikasi seperti Traveloka. Kemudahan ini telah memicu minat luar biasa dari seluruh lapisan masyarakat untuk berlibur. Ini yang saya sebut Traveloka Effect.
“Welcome to the leisure economy.”

Komentar saya atas tulisan ini perlu pembuktian. Terutama data-data dari pihak yang dikatakan menerima pindahan daya beli ini seperti Traveloka, maskapai LCC, Upnormal, kafe dst.

Mendapat Nasi Goreng dan Air Mineral Gratis di Kereta Parahyangan

Tag

, , , , , , , ,


Naik kereta eksekutif dapat makanan minuman ? itu dulu, entah sejak kapan makanan  minuman kereta api harus bayar.

Nah, sore ini kami balik ke Bandung dari stasiun Gambir pada pukul 15.30 WIB. Kereta tiba agak mepet, sehingga waktu masuk gerbong eksekutif,kursi masih menghadap Utara, untuk membaliknya mudah kok, di bawah kursi ada tuas, tekan pakai kaki kanan, lalu putar kedua kursi, maka akan berbalik 180 derajat. Kalau belum bisa, pasti dibantu petugas yang standby sepanjang perjalanan. Kereta berangkat tepat waktu. Semua berjalan normal. Saat melewati stasiun Cikampek tiba tiba pramugara/i kereta menghampiri tempat duduk dan menyebut nama saya dan istri sambil mencentang tulisan pada selembar kertas, bahwa kami dapat nasi goreng dan air mineral 600 ml gratis dari Tokopedia, karena membeli tiket kereta ini di Tokopedia.

isi nasi goreng.jpg

isi nasi goreng kereta api

Lumayan, nasi goreng dengan ayam dan telur goreng, dilengkapi acar,timun dan kerupuk, plus air minum. Kalau dihitung-hitung kami beli tiket eksekutif Gambir Bandung 125 ribu/orang. Dapat cashback 20% (25 ribu) ditambah nasi goreng dan minuman ini mungkin 40 ribu, berarti ongkos kereta eksekutif ini setara 60 ribu. Murah, karena eksekutif ini lebih lega dan empuk kursinya. Ditambah ada TV yang menghibur di sepanjang perjalanan. Tidak lupa merebahkan kursi pada posisi tidur, tidak datar sih, tapi lumayan rebah. Ada tombol/tuas di tepi kursi, dekat gang dan dekat jendela. Tinggal tekan, maka kursi akan rebah sesuai keinginan kita.

kemasan nasi goreng.jpg

kemasan nasi goreng kereta api

Oh ya, kemarin saat naik yg ekonomi tidak dapat gratis makan, mungkin promonya hari ini saja atau mungkin karena tiket ekonomi premium kemarin sudah terlalu murah, kalau ditambah bonus makanan ongkos kereta setara 35 ribu. Coba tanya Tokopedia ah, mau tanya sekalian ucapkan terimakasih.

Dan pagi ini dapat jawaban dari Tokopedia, yang isinya memang dipilih acak di berbagai keberangkatan kereta. Pantas saja teman yang pulang dari Semarang ke Bandung tadi malam cerita hal yang sama. Alhamdulillah

balasan dari tokopedia

Kamis, 10 November 2017. 

Menyambung tulisan di atas, hari ini saya lihat promo di Tokopedia, bahwa beli tiket kereta api eksekutif gratis makanan. Berlaku untuk pembelian tiket tanggal 7-30 November 2017. Silakan dicoba. 

Mencoba Skytrain Dari Terminal 3 Soekarno Hatta 

Tag

, , , ,


Minggu lalu saya coba ke terminal 3 Soekarno Hatta International Airport  Jakarta untuk mencoba Skytrain yang menghubungkan terminal 3 dengan terminal 1.

Dari stasiun Gambir saya naik bus Damri,  turun di terminal 3 yang merupakan tempat pertama menurunkan penumpang Damri sebelum ke terminal 1 &  2. Dari tempat turun penumpang Damri jalan terus ke ujung melalui tempat tunggu shuttle bus,  di sana ada eskalator menuju ruang tunggu Skytrain. Oh ya,  dari luar tidak tampak sesuatu yang menarik di dalam ruang Check in terminal 3.Tampak polos alias garing. Untuk masuk ke dalam diperlukan tiket.

Untuk Skytrain nya sendiri ada di luar,  di lantai bawah Check in, selantai dengan foodcourt yang tampaknya keren dan menarik untuk dikunjungi. Namun karena terbatasnya waktu,  saya menunggu Skytrain saja. Setelah menunggu 15 menit,  datanglah petugas Skytrain yang menginformasikan Skytrain sedang gangguan di terminal 2, tidak bisa dipastikan kapan bisa jalan lagi. Akhirnya para calon penumpang bubar satu persatu,  kebanyakan menuju shuttle bus yang ada di atas.  Banyak yang tampak kecewa. Maklum saja,  masih masa percobaan.

tanda skytrain.jpg

petunjuk ke skytrain

jadwal skytrain.jpg

jadwal skytrain

jadwal keberangkatan terminal 3.jpg

jadwal keberangkatan terminal 3

pemberitahuan gangguan teknis skytrain.jpg

petugas menginformasikan gangguan teknis skytrain ke calon penumpang

Overall,  masih perlu terus diperbaiki terminal 3 ini. Supaya layak bersaing dengan Changi. Saya rasa terminal 1 &  2 terlihat lebih elegan daripada terminal 3, pasca di bersihkan dan direnovasi. Ukiran dan pilar pilar di ruang tunggu sungguh cantik. Ditambah free WiFi dan fasilitas lainnya yang lebih bagus dari sebelumnya. Keren.

Balada Pembatalan Tiket Kereta Api

Tag

, , , ,


Masih menyambung tiket cadangan kereta api untuk antisipasi keterlambatan Lion Air dari Banjarmasin, saat tiba di Jakarta pukul 17.00 WIB, hati masih deg-degan, akankah kereta dari Gambir ke Bandung pukul 20.00 WIB akan terkejar?

Proses menunggu bagasi cukup lama, pukul 17.30 WIB baru dapat bagasi, lalu ke pool bus yang ada di depan terminal 1A. Menunggu bus ke Gambir dan pukul 17.45 naik bus. Bus memutar dulu memunguti penumpang di pool terminal 1B, 1C, 2, 3, dan baru pukul 18.05 keluar bandara Soekarno Hatta. Bus melaju kencang, tampak hotel Best Western Hariston yang di depannya ada bekas lokalisasi Kalijodo,yang kini terlihat mentereng. Lalu berjalan perlahan di depan Central Park sampai depan Monumen Nasional.Baru melaju lagi dan sampai di stasiun Gambir sudah pukul 19.15 WIB. Segera lari ke mesin check in lalu naik ke lantai 2, line 1, dimana kereta Argo Parahyangan akan diberangkatkan. Berhubung masih setengah jam, saya titip bawaan saya yg 14 kg ini (timbangan waktu check in Lion) ke penumpang yang sedang duduk di kursi. Saya turun ke stasiun Utara untuk menuju loket refund tiket cadangan( berangkat pukul 05.00 esok , buat jaga jaga kalau ketinggalan kereta pukul 20.00  WIB). Dapat antrian no 327, sementara yang dilayani baru no 290. Saya tunggu 10 menit baru terlayani 2 orang, berarti saya baru terlayani 2 jam lagi. Sadar akan kemustahilan ini akhirnya masuk lagi ke pintu boarding. Dan pas sampai line 1 kereta sudah datang. Tak lupa saya berterima kasih ke mbak yg sudah nungguin bawaan saya.

Kereta berangkat tepat pukul 20.00 WIB. Karena lapar dan haus, saya langsung ke restorasi yang ada di sebelah gerbong saya. Makan nasi goreng Parahyangan dan cappucino. Enak. Lalu balik ke gerbong, dan SMS customer service on the road,minta bantu untuk proses pembatalan tiket kereta. Petugasnya ramah dan membantu koordinasi. Sekitar 15 menit kemudian datang lagi,dan mengatakan permintaan maaf kalau dia mendapat informasi dari teman bagian ticket bahwa pembatalan harus dilakukan di loket stasiun Bandung, besok jam 4 pagi atau sekitar jam sebelum kereta tersebut berangkat. Sesuatu yang absurd menurut saya, kereta sampai Bandung pukul 23.30, berarti harus nunggu 4,5 jam buat refund tiket. Mana capek dan ngantuk pula.

Ya sudahlah, terpaksa sekali, tiket 80 ribu, saya relakan untuk hangus daripada nambah biaya parkir inap  1 hari + tidur tidak nyenyak di stasiun+bahaya mengemudi saat kurang tidur. Menurut saya, kereta api perlu memperbaiki layanan pembatalan tiket seperti penerbangan, dimana bisa dilakukan via aplikasi atau via agen, tidak harus datang dan antri di stasiun. Dalam sebulan ini sudah 2 x tiket kereta saya hangus, karena ketidak fleksibel and proses cancel/pembatalan dan refund tiket kereta api. Atau lain kali beli tiket go show saja, karena low season biasa banyak tiket go show yang tersedia.

Pengalaman Naik Lion Air

Tag

,


Hahaha.saya awali dengan ketawa dulu, karena baru nulis pengalaman naik Lion Air, setelah jarang naik pesawat ini sejak 3 tahun tinggal di Bandung. Dulu tiap bulan paling tidak sekali,dan berhubung semuanya kurang bagus, baik pesawat maupun bandara nya, jadi malas membahasnya.

Nah sambil nunggu bagasi dan ada free WiFi, maka saya cerita pengalaman naik Lion kali ini (ke seratus sekian :)). Oh ya, dekat mulut belt conveyor ada layar CCTV yang menunjukkan proses unloading. Bisa memperkecil peluang pencurian bagasi di bandara Soekarno-Hatta.Keren.

Tadi cukup riuh ditambah deg degan,karena baru berangkat dari rumah pukul 13.00 WITA, padahal pesawat saya terbang pukul 14.45. Naik Grab bayar 26 ribu, sambil dapat cerita dari sopir,  kalau temennya kemarin ada yang dipukuli sopir taksi offline di bandara. Abang ini juga kasih tahu kalau hari ini ada demo taksi Offline di Banjarmasin, dan ada peraturan pemerintah pusat yang melarang taksi online beroperasi sampai 1 November 2017. Tapi abang ini tetap jalan karena memang butuh makan. Kalau saya karena benar benar tak tahu,  kalaupun tahu juga tetap pilih online karena fleksibilitas nya.

Deg degan sejak mau masuk bandara, karena ada demo,  yang ternyata simulasi,  lalu pas masuk pemeriksaan pertama antri ada 20 orang di depan, trus di scan x Ray,  harus bongkar karena ada selai di tas,  laptop pun harus di keluarkan. Selesai drop bagasi baru pukul 13.45. Masuk pemeriksaan kedua antri lagi,  lebih parah. Ada yang sudah panggilan terakhir tapi masih stuck di situ. Kemacetan ini bermula dengan dipindahkan penerbangan malam ke siang semua,  karena ada kepulauan haji.

Saat menunggu di ruang tunggu ada pengumuman kalau pesawat yang akan saya tumpangi baru berangkat dari Jakarta,  pertanda telat 1 jam. Setelah mendekati pukul 15.00 Wita ada pengumuman lagi pesawat baru berangkat dari Jakarta pukul 15.30 WIB. Banyak penumpang sudah panik,  mengabari keluarganya kalau kemungkinan baru tiba di Jakarta pukul 19.30 WIB,  atau telat 4 jam 45 menit. Saya pun ikut panik,  kalaupun itu benar, pasti ketinggalan kereta dari Gambir ke Bandung, yang terakhir berangkat pukul 20.00 WIB, dan akhirnya beli tiket kereta untuk besok  jam 5 pagi seharga 80 ribu via Tokopedia.

Ternyata setengah jam kemudian ada pengumuman untuk naik pesawat. Hah. Tampaknya pesawat yang baru tiba dari Semarang digunakan buat mengangkut kami.  Pantesan penumpang Lion ke Semarang yang juga dapat pengumuman delay segera dapat kompensasi makanan dan minuman,  sedangkan kami yang direncanakan delay 4 jam lebih,  tidak dikasih apa-apa. Akhirnya meski telat,  45 menit kemudian kami sudah boarding tanpa kompensasi.

Pesawatnya baru,  bersih, majalah edisi Oktober 2017 juga sudah tersedia (saat kemarin lusa belum ada).   Isinya cukup menarik saya untuk baca. Karena pesawat nya baru,  AC nya pun masih segar dan dingin. Pramugari nya juga ramah. Saat tiba di Jakarta kami juga tidak turun tangga,  tapi melalui garbarata. Menyenangkan naik Lion sore ini.

Museum Lambung Mangkurat Kini

Tag

,


Ini adalah museum provinsi Kalimantan Selatan yang berada di Jl Ahmad Yani Km 33,4 Banjarbaru. Terakhir ke sini tahun 2006 (11 tahun lalu),  kala itu tiket masuknya 500 Rupiah. Kini naik jadi 2000 Rupiah untuk dewasa.  Tetap murah. Ketika saya sampai pukul 15.45 Wita(15 menit sebelum tutup museum) , loket sudah tutup. Tapi tetap bisa masuk dengan gratis. 

Koleksi nya lengkap,  dari awal sebelum kerajaan Banjar berdiri,  hingga sekarang. Penampilan nya sudah sangat bagus dan modern, sangat berbeda dengan 11 tahun lalu. Bisa dibandingkan dengan museum nasional di Jakarta atau museum negara di Kuala Lumpur. Keren

Tiket Lion Banjarmasin –  Yogyakarta Naik 100%

Tag

, ,


Rute ini memang unik,  karena cukup banyak orang Kalsel yang sekolah atau berniaga di Yogyakarta,  sebaliknya banyak orang Yogyakarta dan sekitarnya bekerja di tambang,  kebun sawit maupun dinas di Kalsel. 

Uniknya kenapa? Karena 11 tahun pengamatan saya,  2004-2015, 1 pesawat per hari tidak cukup,  2 pesawat kebanyakan. Apa yang terjadi? Ketika cuma 1 (monopoli), harga tiketnya sangat tinggi,  nyaris 3x harga waktu ada 2 penerbangan. Dulu sebelum Mandala bangkrut,  Mandala satu-satunya yang menerbangi jurusan ini,  500 ribuan sekali jalan,  cukup mahal untuk tahun pra 2010. Lalu datanglah Lion,  harga rute ini sempat turun ke 250 ribu. Lalu Mandala yang tersingkir,  mungkin  karena agen tiket lebih suka jual tiket Lion.  Jadilah Lion penguasa tunggal dengan Tiket di atas 500 ribuan. 

Atas permintaan penumpang yang sering kehabisan tiket ke Yogyakarta terutama di weekend tahun 2011 ( puncak harga batubara),  datanglah Garuda Indonesia. Harga kembali turun di kisaran 350-375 ribu an. Beberapa kali naik Garuda yang cuma beda 25 ribu lebih mahal dari Lion,  tapi ternyata kursi nya hampir setengah yang kosong,  padahal full service lho,   dapat makan (snack),  minum,  ada TV dan majalahnya.  Sedangkan Lion masih penuh. Akhirnya Garuda yang undur diri dari rute ini. 

Rute ini isinya bukan cuma intelektual atau pebisnis seperti rute Jakarta – Surabaya/Yogyakarta,  tapi banyak transmigran, pekerja Blue collar di sawit,  tambak,  tambang Batubara (sering tanya ke mereka)  yang kebanyakan beli tiketnya di agen, yang milih jual tiket Lion yang komisinya lebih besar. 

Maka,  hari ini saya terkejut ketika seorang teman cerita kalau tiket sekali jalan Banjarmasin – Yogyakarta sudah sekitar 1 juta koma sekian ratus ribu untuk terbang sekitar 1 jam 15 menit. Wow,  lebih mahal daripada tiket Air Asia/ Thai Lion ke Bangkok yang sekitar 750 ribu untuk terbang selama 3 jam 50 menit. Untuk membuktikan nya saya coba lihat harga tiket Banjarmasin Yogyakarta weekend ini,  ternyata valid,  pergi pulang 2,4 juta. 

Pantesan PNS Depkeu yang sewa rumah saya,  akhir tahun lalu mendadak telpon tidak perpanjang kontrak rumah dan akan minta dipindah balik ke Yogya lagi (rumah aslinya),  padahal sebelumnya  bilang senang banget kontrak di rumah saya,  sampai perpanjang 3 tahun. Alasan eskplisitnya beda sih,  tapi ini bisa jadi pemicunya,  bagaimana tidak, tiap weekend pulang ke Yogyakarta,  hampir 10 juta Rupiah/bulan anggaran buat naik Lion. Duit sendiri pula. 

Buat penumpang rutin rute ini,  yang melek tiket online dan suka traveling budget minim mungkin sedang berdoa “Kapan ya Air Asia terbang ke rute ini?”  Untuk mengakhiri penderitaan akibat tiket mahal Lion. 

Kalau buat saya,  untung saja sudah pindah Bandung, karena meski kemahalan tiket terbang langsung Bandung Banjarmasin yang 1 jutaan,  bisa diatasi dengan naik kereta dulu sambung Damri atau naik bus/Travel dari Bandung ke Cengkareng. Tiketnya masih manusiawi, Jakarta Banjarmasin  500 ribuan + Travel 120 ribu, belum kalau ada promo. Nambah waktu 3-5 jam Kira2. 

Yang Banjarmasin Yogyakarta bisa diakali dengan naik pesawat ke Surabaya yang 400 ribuan (dulu 300 ribuan saja,  bahkan pernah Citilink waktu masih logonya tulisan merah semi pink,  saya dapat tiket 250 ribu pp Banjarmasin Surabaya) sambung bus Damri + Patas Eka, lumayan nambah waktu sekitar 10 jam perjalanan darat,  plus pegel-pegel sampai rumah.  

Naik Lion Jangan Pilih 5 Deret Kursi Paling Belakang

Tag

,


Kenapa? Seperti yang saya alami hari ini,  kursi saya No 38, seharusnya kursi sampai No 39 (Boeing 737-900).Namun ternyata saat masuk pesawat kursi cuma sampai No 34(Boeing 737-800). Jadinya pindah duduk kemana saja yang kosong,  terutama No 20-an.

Jadi pilih No 1-34 saja,  lebih aman. Dan pastikan masuk ke pesawatnya lebih awal,  kenapa? Karena saya tadi pindah ke kursi No 24, ternyata pemegang boarding pass dengan no kursi no 24 yang datang belakangan malah dipindah ke kursi lain oleh mba pramugari. Semua berlangsung smooth.  Ada peningkatan pramugari Lion sekarang,  lebih sopan dan tetap tegas. Mungkin juga karena orang yang terbang ke Banjarmasin tidak mudah tersulut emosinya, sehingga menurut saja dipindah pindah tempat duduknya. 

Pesawat berangkat dan tiba tepat waktu.