Tag

, ,

Pagi ini adalah pengalaman pertama saya naik pesawat Garuda Indonesia di tahun 2019, setelah absen beberapa tahun. Kami naik Garuda GA 530 dari bandara Soekarno Hatta (CGK) ke Banjarmasin (BDJ) pukul 05.40 WIB. Empat tahun terakhir ini sudah tinggal di Jawa dimana transportasi daratnya sudah baik dan banyak pilihan (jalan raya, tol, kereta api). Kalau ke Kalimantan pun tidak naik Garuda lagi karena banyak maskapai lain yang lebih murah (Lion & Citilink).

Check in online (web check in) Garuda dapat dilakukan 24 jam sebelumnya. Untuk boarding pass dapat dicetak di bandara Soekarno Hatta melalui mesin mandiri. Check in dan drop bagasi Garuda domestik maupun internasional sama-sama berada di terminal 3 Ultimate. Bedanya setelah check in/drop bagasi penumpang internasional ke arah kiri, ada security, imigrasi dan menunggu di gate boarding 1-10. Untuk yang domestik ke kanan, hanya security check, menunggu di gate 11-28.

Saya sempat mandi di shower room dekat gate 11. Keren sekali shower room ini, lengkap dengan toilet duduk , wastafel dan kaca rias seperti hotel berbintang. Gratis pula. Sesudah mandi salat subuh di surau yang tak kalah keren. Dekat gate 12 ada reading corner yang disediakan Periplus. Cukup banyak dan bagus koleksinya.

reading corner gate 12 CGK

reading corner gate 12 T3 CGK

Pagi ini penumpang ke Banjarmasin mendapat ruang tunggu di gate 15. Informasi gate baru muncul pukul 03.00, waktu cetak boarding pukul 01.00 belum muncul. Sambil menunggu, bisa duduk di kursi tidur sambil mengamati pesawat yang sedang parkir. Bisa juga ke toilet sebelum naik pesawat. Setengah jam sebelum terbang, kami dipanggil untuk masuk pesawat. Meski pagi, ternyata sudah ada antrian pesawat yang hendak terbang. Pesawat yang kami tumpangi hari ini kode registrasinya PK-GMU (kelihatan di badan belakang pesawat saat turun dari pesawat).

Di pintu masuk ada permen Relaxa, koran Kompas dll, gratis. Kami lewati dulu kelas eksekutif yang pagi ini terlihat penuh. Lalu masuk ke ekonomi. Interior Kelihatan cukup tua pesawatnya, namun sudah ada skylight nya. IFE nya masih Panasonic lama. Bersih terawat. Setelah setengah jam terbang dibagikan sarapan berupa nasi goreng ayam lengkap dengan buah potong. Ada pilihan minum teh, kopi, susu, air putih, jus (jambu, apel, mangga). Cukup nikmat.

IFE Garuda di pesawat Boeing 737-800

makanan yang bisa dibeli di pesawat

cuplikan film Hotel Budapest

majalah Colours, Stars dan GIA Mall

jus jambu

nasi goreng lauk ayam, buah potong dan jus apel

Sekian tahun tidak naik Garuda terasa perubahannya. Pertama, tiket makin mahal, penumpang sebelah yang juragan tongkang ngomong ke temannya “1,9 jt dulu sudah dapat eksekutif, sekarang dapat ekonomi”. Kedua, sepi penumpang, kursi pesawat mungkin hanya terisi setengah saja, karena waktu transfer ke bandara, cukup diangkut dengan dua bus. Ketiga, musik closing biasanya “Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan Jaya….” dengan konduktor Addie MS, kini “Satu Nusa, Satu Bangsa…..kita Bela bersama”, seolah Garuda minta dukungan/dibela rakyat Indonesia untuk kembali berjaya. Keempat, karena saya duduk di kursi belakang, no 45, bisa melihat ekspresi pramugari muda yang sedih dan kesal karena tidak ada penumpang yang belanja/beli souvenir dan dinasehati pramugari senior untuk “tetap sabar, karena sabar tak ada batasnya”. Kelima, kru darat dadah dadah (say good bye) waktu pesawat menuju landasan pacu, seperti di Jepang. Keenam, makanannya tidak ada pudding (desert) nya lagi, alat makannya masih dari stainless steel tapi lebih tipis. Ketujuh, majalahnya terlihat baru desainnya, karena rekanan penerbit nya ganti (per terbitan bulan April 2019), semakin keren menurut saya. Kedelapan, dulu permennya Fox (Nestle Swiss), kini Relaxa, produk asli Indonesia.

kursi santai terminal 3 CGK sambil lihat pesawat parkir

ruang tunggu penumpang dekat gate keberangkatan, sepi

ruang tunggu dengan hiburan TV kabel

kabin Garuda dengan skylight dan IFE (inflight entertainment)

sudah  berada di atas muara sungai Barito Kalimantan

PK GMU parkir di bandara Syamsudin Noor

Alhamdulillah, meski keuangan Garuda Indonesia sedang sulit, bertahun-tahun merugi, mereka tetap menjaga kualitas layanan. Apalagi terbangnya dari terminal 3 ultimate yang mewah dan lengkap. Semoga kembali pulih, karena bagaimanapun Garuda membawa nama Indonesia.

Iklan