Tag

, , , , , , ,

Hahaha.saya awali dengan ketawa dulu, karena baru nulis pengalaman naik Lion Air, setelah jarang naik pesawat ini sejak 3 tahun tinggal di Bandung. Dulu tiap bulan paling tidak sekali,dan berhubung semuanya kurang bagus, baik pesawat maupun bandara nya, jadi malas membahasnya.

Nah sambil nunggu bagasi dan ada free WiFi, maka saya cerita pengalaman naik Lion kali ini (ke seratus sekian :)). Oh ya, dekat mulut belt conveyor ada layar CCTV yang menunjukkan proses unloading. Bisa memperkecil peluang pencurian bagasi di bandara Soekarno-Hatta.Keren.

Tadi cukup riuh ditambah deg degan,karena baru berangkat dari rumah pukul 13.00 WITA, padahal pesawat saya terbang pukul 14.45. Naik Grab bayar 26 ribu, sambil dapat cerita dari sopir,  kalau temennya kemarin ada yang dipukuli sopir taksi offline di bandara. Abang ini juga kasih tahu kalau hari ini ada demo taksi Offline di Banjarmasin, dan ada peraturan pemerintah pusat yang melarang taksi online beroperasi sampai 1 November 2017. Tapi abang ini tetap jalan karena memang butuh makan. Kalau saya karena benar benar tak tahu,  kalaupun tahu juga tetap pilih online karena fleksibilitas nya.

Deg degan sejak mau masuk bandara, karena ada demo,  yang ternyata simulasi,  lalu pas masuk pemeriksaan pertama antri ada 20 orang di depan, trus di scan x Ray,  harus bongkar karena ada selai di tas,  laptop pun harus di keluarkan. Selesai drop bagasi baru pukul 13.45. Masuk pemeriksaan kedua antri lagi,  lebih parah. Ada yang sudah panggilan terakhir tapi masih stuck di situ. Kemacetan ini bermula dengan dipindahkan penerbangan malam ke siang semua,  karena ada kepulauan haji.

Saat menunggu di ruang tunggu ada pengumuman kalau pesawat yang akan saya tumpangi baru berangkat dari Jakarta,  pertanda telat 1 jam. Setelah mendekati pukul 15.00 Wita ada pengumuman lagi pesawat baru berangkat dari Jakarta pukul 15.30 WIB. Banyak penumpang sudah panik,  mengabari keluarganya kalau kemungkinan baru tiba di Jakarta pukul 19.30 WIB,  atau telat 4 jam 45 menit. Saya pun ikut panik,  kalaupun itu benar, pasti ketinggalan kereta dari Gambir ke Bandung, yang terakhir berangkat pukul 20.00 WIB, dan akhirnya beli tiket kereta untuk besok  jam 5 pagi seharga 80 ribu via Tokopedia.

Ternyata setengah jam kemudian ada pengumuman untuk naik pesawat. Hah. Tampaknya pesawat yang baru tiba dari Semarang digunakan buat mengangkut kami.  Pantesan penumpang Lion ke Semarang yang juga dapat pengumuman delay segera dapat kompensasi makanan dan minuman,  sedangkan kami yang direncanakan delay 4 jam lebih,  tidak dikasih apa-apa. Akhirnya meski telat,  45 menit kemudian kami sudah boarding tanpa kompensasi.

Pesawatnya baru,  bersih, majalah edisi Oktober 2017 juga sudah tersedia (saat kemarin lusa belum ada).   Isinya cukup menarik saya untuk baca. Karena pesawat nya baru,  AC nya pun masih segar dan dingin. Pramugari nya juga ramah. Saat tiba di Jakarta kami juga tidak turun tangga,  tapi melalui garbarata. Menyenangkan naik Lion sore ini.

Naik Lion tidak terlalu buruk menurut saya, kenapa? pesawatnya itu lho baru2, paling baru jika dibandingkan maskapai sejenis yang pernah saya naiki (Sriwijaya, Garuda, Air Asia, Pegasus, Turkish Air, Scoot, Anadolu dll yg saya lupa). Yang paling mantap ya armada Boeing 737 Max milik Lion. Mantapnya itu jarak antar kursinya lebih lebar, namun buat maskapai lebih menguntungkan karena hemat bahan bakar. Tak aneh karena saya perhatikan kursinya terbuat dari bahan yang lebih ringan. Kalau beruntung pas naik Lion atau Malindo bisa menikmati pesawat jenis ini. Kebetulan Minggu ini (11 & 16 Desember 2017) saya 2 kali bolak-balik Jakarta Banjarmasin (JT 526 & JT 527) beruntung naik pesawat jenis ini. Beberapa maskapai negara lain juga sudah ada yang menggunakan pesawat jenis ini.

Selasa, 30 Januari 2018. Kali ini saya naik Lion jurusan Jakarta-Banjarmasin yang jam 11.20 siang dari terminal 1A. Kebagian pesawat Boeing 737-900 yang super sempit/rapat untuk ukuran tinggi badan 175 cm dan duduk dekat jendela. Untungnya orang sebelah mengajak ngobrol, sehingga melupakan sesaknya kursi ini. Layanan pramugari OK. Cuma petugas di ruang tunggu boarding ada yang ngaco, dengan logatnya yang khas dia mengumumkan ” boarding untuk jurusan Kendari, Wakatobi, Lombok, Labuhan Bajo” sambil ketawa-tawa. Kawanannya juga ikutan tertawa. Padahal jelas jurusan Lombok dan Labuhan Bajo berangkat di terminal 1B. Kerja yang serius kau bang. Meski begitu, masih OK lah Lion Air ini, on time berangkat dan tibanya.

spasi duduk boeing 737-900 ER Lion Air

kursi sempit Lion 737-900 ER

Pengalaman naik Lion Air lainnya, pernah tidak dapat kursi, karena di boarding pass tertera kursi no 38, ternyata kursinya cuma sampai 35. Untungnya penumpang dari Banjarmasin tidak banyak protes, sehingga tidak viral seperti berita Kompas ini :https://megapolitan.kompas.com/read/2018/09/24/19072461/viral-penumpang-tak-dapat-kursi-di-pesawat-ini-penjelasan-lion-air

Iklan