Tag

, ,

Rute ini memang unik,  karena cukup banyak orang Kalsel yang sekolah atau berniaga di Yogyakarta,  sebaliknya banyak orang Yogyakarta dan sekitarnya bekerja di tambang,  kebun sawit maupun dinas di Kalsel. 

Uniknya kenapa? Karena 11 tahun pengamatan saya,  2004-2015, 1 pesawat per hari tidak cukup,  2 pesawat kebanyakan. Apa yang terjadi? Ketika cuma 1 (monopoli), harga tiketnya sangat tinggi,  nyaris 3x harga waktu ada 2 penerbangan. Dulu sebelum Mandala bangkrut,  Mandala satu-satunya yang menerbangi jurusan ini,  500 ribuan sekali jalan,  cukup mahal untuk tahun pra 2010. Lalu datanglah Lion,  harga rute ini sempat turun ke 250 ribu. Lalu Mandala yang tersingkir,  mungkin  karena agen tiket lebih suka jual tiket Lion.  Jadilah Lion penguasa tunggal dengan Tiket di atas 500 ribuan. 

Atas permintaan penumpang yang sering kehabisan tiket ke Yogyakarta terutama di weekend tahun 2011 ( puncak harga batubara),  datanglah Garuda Indonesia. Harga kembali turun di kisaran 350-375 ribu an. Beberapa kali naik Garuda yang cuma beda 25 ribu lebih mahal dari Lion,  tapi ternyata kursi nya hampir setengah yang kosong,  padahal full service lho,   dapat makan (snack),  minum,  ada TV dan majalahnya.  Sedangkan Lion masih penuh. Akhirnya Garuda yang undur diri dari rute ini. 

Rute ini isinya bukan cuma intelektual atau pebisnis seperti rute Jakarta – Surabaya/Yogyakarta,  tapi banyak transmigran, pekerja Blue collar di sawit,  tambak,  tambang Batubara (sering tanya ke mereka)  yang kebanyakan beli tiketnya di agen, yang milih jual tiket Lion yang komisinya lebih besar. 

Maka,  hari ini saya terkejut ketika seorang teman cerita kalau tiket sekali jalan Banjarmasin – Yogyakarta sudah sekitar 1 juta koma sekian ratus ribu untuk terbang sekitar 1 jam 15 menit. Wow,  lebih mahal daripada tiket Air Asia/ Thai Lion ke Bangkok yang sekitar 750 ribu untuk terbang selama 3 jam. Untuk membuktikan nya saya coba lihat harga tiket Banjarmasin Yogyakarta weekend ini,  ternyata valid,  pergi pulang 2,4 juta. 

Pantesan PNS Depkeu yang sewa rumah saya,  akhir tahun lalu mendadak telpon tidak perpanjang kontrak rumah dan akan minta dipindah balik ke Yogya lagi (rumah aslinya),  padahal sebelumnya  bilang senang banget kontrak di rumah saya,  sampai perpanjang 3 tahun. Alasan eskplisitnya beda sih,  tapi ini bisa jadi pemicunya,  bagaimana tidak, tiap weekend pulang ke Yogyakarta,  hampir 10 juta Rupiah/bulan anggaran buat naik Lion. Duit sendiri pula. 

Buat penumpang rutin rute ini,  yang melek tiket online dan suka traveling budget minim mungkin sedang berdoa “Kapan ya Air Asia terbang ke rute ini?”  Untuk mengakhiri penderitaan akibat tiket mahal Lion. 

Kalau buat saya,  untung saja sudah pindah Bandung, karena meski kemahalan tiket terbang langsung Bandung Banjarmasin yang 1 jutaan,  bisa diatasi dengan naik kereta dulu sambung Damri atau naik bus/Travel dari Bandung ke Cengkareng. Tiketnya masih manusiawi, Jakarta Banjarmasin  500 ribuan + Travel 120 ribu, belum kalau ada promo. Nambah waktu 3-5 jam Kira2. 

Yang Banjarmasin Yogyakarta bisa diakali dengan naik pesawat ke Surabaya yang 400 ribuan (dulu 300 ribuan saja,  bahkan pernah Citilink waktu masih logonya tulisan merah semi pink,  saya dapat tiket 250 ribu pp Banjarmasin Surabaya) sambung bus Damri + Patas Eka, lumayan nambah waktu sekitar 10 jam perjalanan darat,  plus pegel-pegel sampai rumah.  

Iklan