Tag

, , , , ,

Semakin banyaknya pesawat low cost carrier seperti Air Asia, Jetstar, Tiger Air/Scoot, Lion, Malindo, di tahun 2000-an, membuat kunjungan ke negara tetangga menjadi lebih mudah dan murah dibandingkan terbang ke kota-kota di dalam negeri. Hal ini menyebabkan siapa saja, asal punya paspor bisa berkunjung ke negara Asia Tenggara tanpa harus mengurus visa dan memikirkan ongkos tiket pesawat yang mahal. Dan dengan mudah melihat kemajuan kota-kota di luar negeri terdekat seperti Singapura dan Kuala Lumpur. Dan satu hal yang paling mencolok adalah keberadaan transportasi massal di kedua kota tersebut. Di Singapura ada MRT dan bus kota SBS/SMRT, sedangkan di Kuala Lumpur ada LRT, monorail dan bus kota Rapid KL/GoKL. Transportasi di kedua kota ini relatif lebih bagus dan manusiawi. Pengetahuan tersebut serta merta menyadarkan bahwa Jakarta masih ketinggalan dalam hal ini. Bus kota/Kopaja dan angkutan kota banyak beroperasi dengan jadwal yang tidak pasti karena macet dan keamanan penumpang yang kurang.

Di tahun 2004, di era Gubernur Sutiyoso, Jakarta sudah mempunyai transportasi massal yang terjadwal dan relatif aman dan nyaman, yaitu Trans Jakarta. Yang mempunyai jalur sendiri dan tidak berhenti di sembarang tempat. Namun seiring bertambahnya kendaraan roda 4, jalan semakin padat dan mulai banyak kendaraan yang menerobos jalur bus Trans Jakarta. Akibatnya terjadi kemacetan juga. Memang ada sanksi buat penerobos yang tertangkap, namun ini tidak membuat mereka jera. Maka derita kemacetan yang dialami warga di jalanan Jakarta tetap terjadi. Derita karena kemacetan bisa berupa biaya BBM yang mahal, udara yang tercemar karena asap kendaraan, terlambat karena tidak ada kepastian waktu.

Nah, agar derita akibat macet di jalan ini tidak menjadi kebiasaan, mau tidak mau harus dipikirkan transportasi lain yang jalurnya khusus dan tidak ada yang bisa mengaksesnya selain alat transportasi tersebut. Ada KRL (kereta rel listrik) yang sudah ada sejak tahun 1930, namun kurang optimal pengelolaannya hingga tahun 2010. KRL yang digunakan saat ini mampu membawa 2.000 penumpang dalam 8-10 gerbong sekali angkut. Namun karena berada dipermukaan dan banyak bersilangan dengan jalan umum, maka lalu lintas nya tidak bisa sesering mungkin. Kemudian akan ada LRT (Light Rapid Transport) dan MRT (Mass Rapid Transport). Perbedaannya, MRT mampu membawa 1.200 penumpang dalam 6 gerbong sekali angkut, sedangkan LRT hanya mampu mengangkut separuhnya dalam 3 gerbong sekali angkut. Dalam sehari MRT diperkirakan akan mampu mengangkut 173.000 orang. Dari ketiga moda transportasi masal tersebut mempunyai kesamaan di ukuran rel 1067 mm.

Dalam video ini tergambar bahwa MRT koridor 1 akan melayani jalur Lebak Bulus hingga Bundaran Hotel Indonesia, dimana ada 13 stasiun, 7 stasiun dengan jalur di atas jalan layang sepanjang 10 km mulai meliputi stasiun Lebak Bulus, Fatmawati, Cipete Raya, Haji Nawi, Blok A, Blok M, Sisingamangaraja, 6 stasiun dengan jalur bawah tanah(underground) sepanjang 6  km meliputi stasiun Senayan, Istora, Bendungan Hilir, Setiabudi, Dukuh Atas dan Bundaran Hotel Indonesia. Adapun jam operasionalnya direncanakan mulai pukul 05.30 hingga pukul 24.00 dengan jeda keberangkatan tiap 5 menit dan waktu tempuh 30 menit dari Lebak Bulus ke Bundaran Hotel Indonesia. Sebagai perbandingan orang yang berangkat pada pukul 06.30 (mulai jam sibuk) dari stasiun Lebak Bulus dengan menggunakan MRT akan sampai di stasiun Bundaran Hotel Indonesia pada pukul 07.00, sedangkan apabila menggunakan mobil pribadi, pukul 07.00 masih terjebak kemacetan di sekitar stasiun Fatmawati. Adapun cara mengaksesnya sama dengan TransJakarta maupun KRL, yaitu tap kartu di pintu masuk, antri di depan platform, naik kereta, turun lalu tap kartu di pintu keluar. Rencananya MRT ini akan beroperasi mulai Maret 2019.

koridor 1 MRT Jakarta

peta koridor 1 MRT Jakarta dari Lebak Bulus sampai Bundaran Hotel Indonesia

MRT yang aman, terawat dan nyaman akan menunjang aktivitas warganya. Tidak hanya itu, tapi juga akan mendatangkan wisatawan domestik maupun internasional. Apalagi jika stasiun MRT terhubung dengan tempat penting seperti mall, tempat wisata, perkantoran, stadion, dan tempat penting lainnya, maka dalam jangka panjang akan mendorong keberlangsungan usaha, karena tempat yang terkoneksi dengan transportasi MRT akan selalu dicari.

Sebagai bangsa Indonesia, senang dan menantikan MRT Jakarta, karena Jakarta akan segera mempunyai transportasi yang cepat, modern, aman dan nyaman seperti Singapura dan Kuala Lumpur serta kota-kota di negara yang sudah maju. Mari bekerja bersama untuk mendukung  terwujudnya MRT Jakarta agar Jakarta berubah menjadi lebih baik.

Iklan