Tag

Sepi, itu yang terasa 2x mendarat di terminal 2 bandara Juanda. Jika biasanya ramai, sekarang relatif lengang. Kelengangan kembali terasa di bus DAMRI yang mengantar ke terminal Purabaya/Bungurasih, hanya terisi 6 kursi dari kapasitas 25 orang. Begitu juga di Bungurasih, lebih ramai pedagang asongan daripada penumpang. Padahal bus Patas Harapan Jaya sudah kasih diskon yang diperpanjang dari 2 bulan lalu. Tarif Surabaya Tulungagung tertera 50 ribu, tapi ditarik 40 ribu.
Kondisi ini sangat bertolak belakang dengan saat booming sawit dan batubara, seringkali bus DAMRI muatannya melebihi kapasitas, konsekuensinya banyak penumpang yg rela berdiri atau menunggu bus berikutnya, bus Patas Harapan Jaya pun sudah biasa naik terus tarifnya diatas 50 ribu sampai Tulungagung.
Penurunan harga komoditas sawit dan batubara di Kalimantan dan Sumatera tampaknya berdampak signifikan bagi mobilitas manusia yang menggunakan transportasi umum di Jawa Timur. Kebanyakan yang kembali ke kampung halamannya berwirausaha seperti sebelum booming komoditas, seperti menjadi petani, beternak ayam, ikan, lele dlsb di kampung halamannya, yang tampaknya sudah menjadi bakat alam mereka. Tak sebesar hasil di komoditas, paling tidak mereka dan keluarganya bisa tercukupi kebutuhan dasarnya.

Iklan