Ini adalah museum terbesar di Indonesia, sesuai namanya, museum nasional menjadi tempat menyimpan khazanah sejarah Indonesia.
Untuk ke lokasi sangat mudah, apabila menggunakan Transjakarta, turun di halte monumen nasional, tinggal menyeberang ke utara, sudah sampai pintu masuk museum. Bulevar di depannya dilengkapi kursi yang asyik untuk duduk dan ambil gambar.
Untuk masuk ke dalamnya cukup bayar 5 ribu untuk dewasa dan 2 ribu untuk anak-anak, sedangkan turis 10 ribu. Sangat murah.
Sebelum masuk ada pemeriksaan barang bawaan, lalu bayar tiket, lalu titip tas bawaan, baru lenggang kangkung masuk ke dalam museum.
Paling enak lewat gedung lama yang berisi koleksi arca batu, keramik, senjata dll. Sedangkan di gedung baru yang terdiri dari 4 tingkat untuk pameran, koleksinya lebih lengkap, dengan display lebih menarik dan keterangan/ilustrasi yang lengkap. Secara tampilan ini adalah museum kelas dunia.
Hanya sayangnya saya menemukan kekurangannya, yaitu kurang maksimalnya pengelolaan kafe dan toko souvenir, lokasi di basement, bahkan papan informasi event pun sudah kadaluarsa seperti pamflet Jakarta Biennale 2012 masih terpampang di koridor depan penghubung antara gedung lama dan baru. Padahal di museum lain seperti di Islamic Museum Malaysia, kafe dan toko souvenir nya dikelola dengan serius. Perlu orang yang terbuka wawasannya untuk mengelola kafe dan toko souvenir museum ini.

Iklan