Bertempat di auditorium SBM (Sekolah Bisnis Manajemen) ITB Bandung, Jumat 4 Desember 2015 lalu diadakan gathering investor Kresna Sekuritas dengan judul ” Indonesian Market Outlook 2016″ menghadirkan pembicara Bpk Tito Sulistio-Presiden Direktur Bursa Efek Indonesia, Bpk Michael Steven-Presdir Kresna Sekuritas dan Bpk Martin Panggabean-ekonom sekaligus dosen SBM ITB.
Setelah sambutan dari kepala lab investasi SBM ITB, giliran pak Martin menyampaikan beberapa poin kondisi makro ekonomi Indonesia tahun 2016 yg dipengaruhi kondisi 2015, antara lain :
1. The Fed akan menaikkan suku bunga
2. Tidak sinkron antar negara
3. Harga komoditas (batubara dan sawit) masih akan sama/stagnan bila China masih seperti sekarang.
4. Kurs Rupiah yang tidak stabil
5. Impor turun 20%, tetapi bahayanya adalah 70% impor berupa raw material yang tidak ada di Indonesia dan dibutuhkan oleh industri.
6. Pertumbuhan kredit menurun menjadi 10%
7. NPL (kredit macet) naik dari 1.9% menjadi 2.76%, kenaikan 0.8% ini setara 35 Trilyun
8. EPS (earning per share) 2015 turun -0.4% dipengaruhi properti, kebun dan batubara, sedangkan untuk 2016 diperkirakan naik kembali 12%.
Selanjutnya paparan dari pak Tito. Intinya bursa Indonesia masih sangat besar potensi untuk bertumbuh mengingat masih kecilnya jumlah investor di Indonesia dibandingkan jumlah penduduknya. Dan nilai kapitalisasi bursa dibanding negara tetangga, bursa Indonesia hanya lebih besar dari bursa Filipina, artinya masih di bawah Australia, Singapura dan Malaysia. Kemudian mengenai kabar modal minimal untuk IPO di bursa saham Indonesia yang akan diturunkan dari 100 milyar menjadi 5 milyar, beliau jelaskan bahwa untuk masuk bursa kendalanya adalah menunggu persetujuan DPR yang terkadang lama. Ada yg perlu 4 tahun seperti Adhi Karya. Dengan penurunan modal minimal ini diharapkan akan banyak yg listing di bursa. Saya jadi ingat rumah makan pak Putra di Melaka Malaysia, di slip pembayarannya ada tulisan restoran pak Putra under….sdn bhd (tbk), padahal cuma warung.
Demikian juga pak Steven dari Kresna Sekuritas juga menyampaikan idealnya bursa saham Indonesia terbesar ke 4 dunia, sebanding jumlah penduduknya, karena dari rumus pertumbuhan investor, jumlah penduduk lebih dominan daripada GDP dan pertumbuhan ekonomi.

Iklan