Tag

, , , , , , , , , , , , ,

Senin, 17 Agustus 2015

70 Tahun Indonesia Merdeka

Kami berangkat ke KL Sentral dari JB Sentral Ahad malam menggunakan kereta Senandung Sutera. Kami nyaris ketinggalan, karena dalam mindset baru boleh masuk ke kereta jam 10.30 malam (setelah baca beberapa blog), ternyata jam segitu adalah jam berangkat. Kami lihat ke ruang keberangkatan pada 10.25 malam sudah tidak ada orang padahal tadi masih banyak orang, ternyata semua sudah masuk kereta. kami memang tidak kebagian duduk di ruang tunggu keberangkatan, karena itu kami duduk di depan loket yang menghadap berlawanan dengan ruang tunggu. Alhamdulillah, kami tak tertinggal.

Begitu kami masuk kereta, kereta langsung berangkat (tak sampai 1 menit dari kami masuk). Kami langsung masuk ke kabin tidur yang cukup buat orang setinggi 180 dan berat 100 kg. masih ada space untuk taruh barang dan sepatu. Kereta ini sudah terbilang uzur dan cukup berisik, sehingga selama 8 jam perjalanan saya seringkali terjaga dari tidur. Cukup pelan jalannya.

2 kabin senandung sutera

berada di kabin tidur atas senandung sutera

2 senandung sutera malam

kabin tidur penumpang kereta senandung sutera

Jam 7 pagi tepat kereta tiba di KL Sentral dan kami langsung ke kamar kecil serta mencari surau. Surau lelaki terpisah jauh dari surau perempuan. Nah, pada saat sholat ini ada orang yang mengambil sepatu/kasut saya. Tidak saya saja, tapi juga orang yang datangnya bersamaan dengan saya, padahal dia mau berangkat kerja. Kemudian lapor ke polisi jaga dan disarankan lapor ke polis negara yang buka jam 9. wah kelamaan, karena kami mau lanjut ke Malaka. Hati2, meski terlihat aman, jangan lengah. Lebih baik simpan di loker (berbayar) atau bungkus plastik taruh dekat kita berada.

Sebagai gantinya saya beli sandal/selipar Fipper nomor 11 seharga 19 Ringgit di minimarket terdekat. Untuk acara jalan2 seterusnya saya pakai sandal ini. Lalu beli tiket KTM seharga 1 Ringgit ke Bandar Tasik Selatan (BTS) yang berangkat jam 7.30. Kondisi gerbong KTM bagus, serupa MRT atau KRL. Jam 7.45 kami sudah tiba di TBS dan terminal bus terletak di sebelah kanan kalau dari arah KL. Di sana sudah ada penjualan tiket bus dalam satu atap. Untuk pesan tiket Delima kami dimintai IC/KTP Malaysia atau paspor. Delima adalah bus termurah ke Melaka seharga 10 Ringgit. Kami ambil keberangkatan jam 8.30. Kami masih sempat ke kamar kecil/tandas lalu ke 7-11 untuk sarapan.

2 hiburan di bus delima

hiburan di bus delima ke melaka

2 konter tiket bus TBS

loket tiket bus di terminal TBS

2 tiket bus

tiket bus delima

Usai sarapan nasi lemak dan mie bihun di 7-11, jam 8.15 kami turun ke ruang tunggu no 8 untuk menunggu bus Delima. Jam 8.25 bus berangkat, karena tiket termurah susunan kursinya 2-2. Meski murah ternyata aman dan nyaman, AC nya sejuk, suaranya halus. Dan diputarkan rekaman lomba lawak yang diadakan TV Astro di Istana Budaya. Setelah itu diputarkan lagi film Jurrasic Park. Kiri kanan terlihat hutan dan industri, tak seperti ke arah Johor/Singapura yang penuh dengan pemandangan sawit. Jalan halus mulus.

Jam 10.30 kami tiba di Melaka Sentral, lalu kami ke terminal dalam kota untuk menunggu bus panorama no 17 yang melalui Bangunan Merah (Stadhuys) ikon Melaka itu. Cukup lama kami menunggu di situ, jam 11.30 baru ada bus berangkat, kami masih sempat untuk beli 5 kue Patiseries seharga dan serupa Breadtalk namun rasanya jauh dibawah, terlalu berminyak dan plain. Udara Melaka yang panas, lumayan terkurangi dengan ruang tunggu yang ber AC. Jam 10.30 bus berangkat dengan pembelian tiket langsung di supir. Ongkosnya 1,5 Ringgit. Sepertinya sopirnya orang Indonesia, karena logatnya Jawa Timuran, kadang ngomel sendiri pakai bahasa Jawa kalau penumpangnya bayar pakai uang nominal besar-50 Ringgit. Jam 12 kami sampai di kawasan Bangunan Merah.

Seperti biasa, acara foto2 adalah wajib. Dengan gedung Christ Church (dibangun 1753) dan bangunan merah peninggalan Belanda serta air mancur Queen Victoria dibangun tahun 1904 oleh Inggris, serta menara jam yang dibangun filantropis Cina Malaysia Tang Beng Swee tahun 1886. Puas berfoto, jam 1 siang kami jalan lagi menyusuri jalanan kota tua Melaka yang masih terawat, melalui Hard Rock Cafe, Museum Cheng Ho dan Masjid Kling. Di masjid ini kami sholat. Oleh pengurus masjid diingatkan supaya barang dibawa/disimpan, karena rawan pencurian, termasuk kotak amal segede sofa pernah ada yang curi. Nyesek juga ingat pagi tadi kehilangan sepatu di KL Sentral.

2 bangunan merah

bangunan merah melaka

2 jonker walk

jonker street

2 museum cheng ho

museum cheng ho melaka

2 queen victoria fountain

air mancur ratu victoria

Usai sholat, kami jalan lagi mencari hotel Hong yang ada di jalan Masjid, persis di samping masjid Kampung Hulu yang berasitektur campuran Jawa Joglo, Cina dan Arab yang merupakan masjid tertua dan satu-satunya yang berdesain ini di Malaysia. Hotel Hong lebih tepatnya bisa digolongkan sebagai hostel ini berada di ruko yang sederet dengan rumah kematian orang Cina. Meski begitu tidak angker, karena bangunan baru di renovasi habis2an. Ada 12 kamar yang tersedia, yang 8 lagi sedang direnovasi di bawah. Kami diterima resepsionis wanita, cukup dengan menyerahkan kertas bukti booking Agoda dan paspor. Sesudah itu kami diberikan kunci kamar 103 dan diberitahu tiap hari ada snack yang hari itu curry puff (karipap) halal. Bebas tapi terbatas. Boleh ambil air minum, bikin teh dan kopi sepuasnya. Ada Wifi gratis juga, namun tak kami manfaatkan karena sudah berlangganan roaming dari Indonesia.

Masih panas nya Melaka membuat kami istirahat sambil menyalakan AC sampai Maghrib. Kamar dengan 2 tempat tidur, 1 single bed dan 1 double bed ini cukup nyaman. AC, kipas angin, TV layar datar dengan 2 channel (TV1 dan TV2), obat nyamuk cair, DVD player tersedia di kamar. TV 1 dan TV 2 ini semacam TVRI nya Malaysia dengan memutar berulang ulang iklan patriotisme kebangsaan terkait kemerdekaan Malaysia, selain itu diputar film klasik 1965 karya P Ramlee “Masam masam Manis”. Lumayan menghibur. Ada juga adaptor kaki 3 untuk antisipasi tamu dari Indonesia. Oh ya, kamar mandinya juga besar dan baru. Nyaman.

2 pinggir sungai melaka

di tepian sungai melaka

2 pohon dekat hard rock cafe

pohon berlampu dekat hard rock cafe melaka

Jam 8 malam kami keluar hotel untuk mencari tempat makan malam. Kami disambut pemilik hotel, dibantu dengan peta tempat penting di Malaka, termasuk tempat makan halal di jalan Laksamana. Usai briefing kami melangkahkan kaki, dan tergoda dengan jalan sepanjang sungai Melaka yang diterangi lampu hias berwarna-warni, sungguh menarik hati. Karena godaan itu kami sempat tersesat dan baru jam 9.30 kami menemukan Limbongan Station Restaurant https://foursquare.com/v/limbongan-station-restaurant/4d28a898849f370456377641. Tadinya mau makan di Pak Putra yang terkenal ayam tandoori dan cheese naannya terkenal, namun tutup hari itu. Di Limbongan kami pesan 1 nasi goreng campur, 2 asam pedas ikan pari, 1 kopi susu dan 2 teh manis. Enak sekali rasa makanannya, sedangkan minumannya biasa saja-bisa bikin sendiri. Makan bertiga habis 29.5 Ringgit. Sepadanlah rasa dan harganya.

limbongan

kedai limbongan di foursquare

Kami balik ke hotel sudah jam 10.30, masih ada saja orang nongkrong2. Kami lewati hotel bintang Casa Del Rio yang mewah. Banyak turis yang berkeliaran dan foto2 waktu malam begini, mungkin tak tahan panas seperti kami. Melaka cukup aman menurut pemilik hostel kami tinggal. Kalau copet juga ada, biasanya pelaku naik motor modifikasi, disarankan tas selempang ditaruh di depan. Jam 11.15 kami tiba di hotel, sholat lalu tidur. Hari pertama di Malaysia, hilang sepatu Nike yang saya beli 36 jam sebelumnya di Bandung, dan ternyata Melaka panas sekali-mirip di Banjarmasin.

Iklan